![]() |
| Foto bersama teman-teman mahasiswa dan para dosen penanggung jawab. |
Assalamu Alaikum, readers! well, postingan kali ini saya mau nge-flashback dikit seputar praktikum (turun lapang) untuk mata kuliah Sosio Antropologi dan Manajemen Strategi yang berlokasi di Desa UPT Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan,
Sulawesi Tenggara. Perjalanan ke desa tersebut memakan waktu kurang lebih
sekitar satu jam dari Kota Kendari. Sebagian besar penduduk yang berdomisili di tempat ini adalah
pendatang, dengan mayoritas agama Hindu. Rumah yang kami tempati adalah rumah Pak Edi, salah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai
petani. Beliau adalah sosok sederhana yang cukup handal dalam bidang pertanian,
meskipun ia tidak menempuh pendidikan seperti kedua anaknya yang masih duduk
dibangku sekolahan.
| Sepanjang blok UPT Arongo. |
Bapak Edi, dengan usianya yang
sudah tak muda lagi, 46 tahun, adalah kepala keluarga dari 2 orang anak. Beliau
adalah transmigran dari Pulau Jawa yang telah berdomisili di UPT Arongo Landono
selama 5 tahun. Ia bekerja sebagai petani di lahan perkebunan yang kurang lebih
memiliki luas sebesar 18 Ha yang ia kelola dengan sendirinya. Akan tetapi,
kadangkala ia mempekerjakan tenaga kerjanya untuk mengelola kebun tersebut
sebab ia sering mendapat pekerjaan sampingan sebagai kuli bangunan panggilan.
Sementara istri Pak Edi (44 tahun) adalah ibu rumah tangga.
Kediaman Pak Edi tidak terlalu besar,
rumahnya begitu sederhana, hanya beratapkan rumbia dan di ruang tengahnya
beralaskan tikar. Fasilitas didalam rumahnya pun tidak begitu memadai,
kadang-kadang mereka menggunakan tenaga dari sebuah aki untuk menghidupkan
lampu listrik yang menjadi sumber penerangan rumah. Sementara untuk air, mereka
menggunakan sumur bor sehingga tidak terlalu kekurangan dan setiap saat tetap
mengalir. Air dari sumur tersebut digunakan untuk memasak, mencuci, dan segala
urusan lainnya yang menyangkut kebutuhan primer.
Untuk pendapatan keluarga,
perbulannya mereka memperoleh kurang lebih 8 juta yang dikonsumsi untuk
pengeluaran pangan seperti beras, lauk pauk, sayur-sayuran, serta bahan-bahan
non pangan lainnya. Untuk bahan pangan, pengeluaran perharinya adalah berkisar
antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Sementara untuk non pangan, berjumlah lebih
banyak dibandingkan kebutuhan pangan. Dalam hal ini meliputi biaya kesehatan,
biaya pendidikan untuk kedua anaknya, dan juga biaya rokok serta pembelian
untuk infrastruktur pertanian seperti pemotong rumput, sensor, cangkul, spray,
dan genset. Harga setiap alatnya biasanya kurang lebih Rp 250.000. Ia membeli
langsung dari Jawa dengan alasan lebih murah dibandingkan di tempat yang ia
tinggali saat ini. Pengeluaran lainnya adalah upah tenaga kerja yang berjumlah
sebesar Rp 60.000 untuk per hari. Total yang mereka habiskan adalah sebesar Rp
2.600.000 per bulan.
Dengan luas lahan sebesar 18 Ha, lahan tersebut berisi
produk-produk pertanian seperti umbi-umbian, buah klengkeng, jambu biji, jambu
air, durian, dan nenas. Di pekarangan kebun, terdapat hewan ternak seperti 1
ekor ayam, 100 ekor ikan di sebuah kolam, dan 4 ekor kambing. Jika panen,
hasil-hasil pertanian tersebut dipasarkan ke Swalayan dan Hypermart.
