Laman

Minggu, 27 Maret 2016

Praktikum Lapang #1

Foto bersama teman-teman mahasiswa dan para dosen penanggung jawab.

                 Assalamu Alaikum, readers! well, postingan kali ini saya mau nge-flashback dikit seputar praktikum (turun lapang) untuk mata kuliah Sosio Antropologi dan Manajemen Strategi yang berlokasi di Desa UPT Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Perjalanan ke desa tersebut memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam dari Kota Kendari. Sebagian besar penduduk yang berdomisili di tempat ini adalah pendatang, dengan mayoritas agama Hindu. Rumah yang kami tempati adalah rumah Pak Edi, salah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani. Beliau adalah sosok sederhana yang cukup handal dalam bidang pertanian, meskipun ia tidak menempuh pendidikan seperti kedua anaknya yang masih duduk dibangku sekolahan.
Sepanjang blok UPT Arongo.

                 Bapak Edi, dengan usianya yang sudah tak muda lagi, 46 tahun, adalah kepala keluarga dari 2 orang anak. Beliau adalah transmigran dari Pulau Jawa yang telah berdomisili di UPT Arongo Landono selama 5 tahun. Ia bekerja sebagai petani di lahan perkebunan yang kurang lebih memiliki luas sebesar 18 Ha yang ia kelola dengan sendirinya. Akan tetapi, kadangkala ia mempekerjakan tenaga kerjanya untuk mengelola kebun tersebut sebab ia sering mendapat pekerjaan sampingan sebagai kuli bangunan panggilan. Sementara istri Pak Edi (44 tahun) adalah ibu rumah tangga.
                 Kediaman Pak Edi tidak terlalu besar, rumahnya begitu sederhana, hanya beratapkan rumbia dan di ruang tengahnya beralaskan tikar. Fasilitas didalam rumahnya pun tidak begitu memadai, kadang-kadang mereka menggunakan tenaga dari sebuah aki untuk menghidupkan lampu listrik yang menjadi sumber penerangan rumah. Sementara untuk air, mereka menggunakan sumur bor sehingga tidak terlalu kekurangan dan setiap saat tetap mengalir. Air dari sumur tersebut digunakan untuk memasak, mencuci, dan segala urusan lainnya yang menyangkut kebutuhan primer.
                 Untuk pendapatan keluarga, perbulannya mereka memperoleh kurang lebih 8 juta yang dikonsumsi untuk pengeluaran pangan seperti beras, lauk pauk, sayur-sayuran, serta bahan-bahan non pangan lainnya. Untuk bahan pangan, pengeluaran perharinya adalah berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Sementara untuk non pangan, berjumlah lebih banyak dibandingkan kebutuhan pangan. Dalam hal ini meliputi biaya kesehatan, biaya pendidikan untuk kedua anaknya, dan juga biaya rokok serta pembelian untuk infrastruktur pertanian seperti pemotong rumput, sensor, cangkul, spray, dan genset. Harga setiap alatnya biasanya kurang lebih Rp 250.000. Ia membeli langsung dari Jawa dengan alasan lebih murah dibandingkan di tempat yang ia tinggali saat ini. Pengeluaran lainnya adalah upah tenaga kerja yang berjumlah sebesar Rp 60.000 untuk per hari. Total yang mereka habiskan adalah sebesar Rp 2.600.000 per bulan.

                 Dengan luas lahan sebesar 18 Ha, lahan tersebut berisi produk-produk pertanian seperti umbi-umbian, buah klengkeng, jambu biji, jambu air, durian, dan nenas. Di pekarangan kebun, terdapat hewan ternak seperti 1 ekor ayam, 100 ekor ikan di sebuah kolam, dan 4 ekor kambing. Jika panen, hasil-hasil pertanian tersebut dipasarkan ke Swalayan dan Hypermart.